Cerita Bersambung (bagian 1)

Ada sepasang suami istri yang baru saja menikah, sebut saja mereka Galih dan Ratna. Tahun-tahun pertama pernikahan mereka dilalui dengan indah, sampai pada suatu hari.
Galih yang baru saja menghadapi hari yang cukup berat di kantornya, pulang dengan membawa setumpuk pekerjaan.
Galih yang sedang suntuk berpikir untuk segera menyelesaikan pekerjaan kantornya secepatnya untuk segera dapat beristirahat.
Sesampai di rumah, Galih langsung masuk ke kamar kerjanya di ruang atas dan mengunci pintu lalu melanjutkan pekerjaannya. Tak berapa lama kemudian Galih mendapat telepon dari klien yang rewel, Galih yang sedang bad mood buru-buru menyelesaikan perbincangannya dengan si klien lalu mematikan nomor teleponnya karena tidak ingin melayani si klien
Ratna yang sudah lebih dulu sampai di rumah tidak menyadari kehadiran suaminya karena sedang memasak makan malam untuk mereka berdua di dapur.
Ratna yang juga mengalami hari yang cukup melelahkan di kantor berencana mencurahkan perasaannya di saat makan malam nanti.
Ratna berharap rasa penatnya bisa pulih setelah bercakap-cakap dengan Galih, suami yang sangat dicintainya itu.

Waktu telah menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit, masakan sudah hampir siap, tetapi Ratna merasa was-was, karena Galih yang biasanya sepulang kerja selalu langsung menemuinya di dapur selagi ia memasak, tak kunjung pulang tanpa memberi kabar.
Galih biasanya memberi kabar sebelumnya jika ia berencana untuk lembur di kantor atau terlambat sampai di rumah.
Ratna tak tahu bahwa Galih telah pulang dan sedang melanjutkan pekerjaan kantornya di ruang kerja.
Selesai memasak, Ratna kemudian mencoba menghubungi nomor telepon suaminya, tetapi nomor suaminya tak bisa dihubungi. Ratna mulai merasa kuatir, lalu ia mencoba menghubungi nomor telepon teman sekantor suaminya untuk menanyakan kabar suaminya, tetapi nomor telepon Bobby juga tidak dapat dihubungi.
Ratna mulai panik, kemudian ia teringat, suaminya pernah menuliskan nomor telepon rekan kerjanya, Andi, yang duduk berseberangan dengan Galih di kantor di buku telepon di rumah. Ia lalu membolak balik buku telepon, berharap menemukan nomor telepon Andi.
Tak berapa lama, nomor Andi ditemukan, Ratna lalu buru-buru menghubungi nomor itu. Terdengar nada tunggu, Ratna sedikit merasa lega, tak berapa lama kemudian Andi mengangkat telepon, Ratna lalu menanyakan apakah Andi tahu kondisi suaminya.
Andi menjelaskan bahwa Galih tadi pulang kantor tepat waktu karena tadi Galih sempat berpamitan ke Andi bahwa ia akan melanjutkan pekerjaannya di rumah.
Terlintas di pikiran Ratna, jangan-jangan Galih sudah pulang dan berada di ruang kerjanya. Ratna lalu naik ke ruang atas dan mengintip ruang kerja Galih melalui lubang kunci, takut mengganggu Galih yang sedang bekerja. Benar, Ratna melihat Galih sedang konsentrasi mengerjakan pekerjaannya di sana. Tak mau mengganggunya, Ratna lalu turun dan makan malam sendirian, Ia mengurungkan niatnya untuk mencurahkan perasaannya ke Galih hari itu, pikirnya besok saja saat Galih sudah tidak terbebani oleh pekerjaan.
Ia pikir, di saat seperti ini bukan waktunya bagi Ratna untuk meminta perhatian Galih, melainkan waktu bagi Ratna untuk mendukung dan menghibur suaminya.
Selesai makan, Ratna lalu menulis sesuatu di selembar kertas dan meletakkannya di atas meja makan, berharap suaminya akan melihat dan membacanya selesai bekerja nanti. Ia lalu masuk ke kamar dan pergi tidur lebih dulu.

—to be continued—

~ by h4rdw0rk on March 24, 2009.

Leave a Reply